Incinerator Limbah Medis IMW - 05

Incinerator Limbah Medis IMW - 05  merupakan incenerator untuk kebutuhan pembakaran limbah medis yang sudah dilengkapi dengan 2 unit burner, sehingga pembakaran lebih sempurna.  Tentu saja ada kekhawatiran akan asap yang ditimbukan dari insenerator,  apalagi yang dibakar merupakan limbah medis yang bisa bersifat infeksius atau bahan obat. Untuk memastikan uap/asap dari pembakaran limbah medis  tidak berbahaya, juga disediakan scrubber untuk menangkap asap hasil bakar dan mengendapkannya. 




Spesifikasi  Incinerator Limbah Medis IMW - 05:
Jumlah Burner : 2 unit
Kapasitas pembakaran  to 5kg / batch
Ukuran Incinerator Chamber 75 x 120 cm
Diameter cerobong 40 cm/25cm
Bahan Bakar : Solar
Temperature 1st Burner : 400 - 800 Deg C , Tergantung kalori
Temperature 1st Burner : 600 - 1100 Deg C
Tinggi Cerobong dari tanah : 4 m
Wall insulation : Castable, Fire Brick dan Insulation Brick
Panel : Electrical Panel, temp conntroller

Refractory Construction :
For Bottom floor ; Fire Clay Brick and Fire Brick
For Shell Plate ; Ceramic Fiber and Fire Brick
For Roof, Burner Port, Door and Nozzle ; Castable

Body Construction :
For Bottom, Shell and Roof Material from Mild Steel thk 3mm
For Joint Flange 10 mm thickness
For Structure Material : Shape and Mild Steel
Coating : Epoxy Coating



Scrubber
Pump, Piping with Water Tank
Maximum Capacity 190 liter/min
Electricity 220 Volt, 50 Hz, 1 Phase, 370 Watt

Diesel Oil Consumption : ± 4 liter / hour
Diesel Oil Tank Capacity : 40 Liter

Control System :
  - Electronic Control Panle
  - Temperature Control : Digital
  - Thermocouple : Type – K.

Konsumsi daya listrik : 1000 Watt
Listrik :  220 Volt / 50Hz

Hasil Akhir :

Ash : 5 – 10 % waste weight
Ash Discharging : Manual
Feeding System : Manual

Catatan :

- UNIT INSENERATOR INI TIDAK MENGHANCURKAN LIMBAH MATA JARUM SUNTIK.
- UNIT INCINERATOR HANYA MEMBAKAR TABUNG SUNTIK.
- UNTUK PENGHANCURAN MATA JARUM SUNTIK, GUNAKAN PENGHANCUR JARUM SUNTIK.

Komponen Incinerator / Insenerator

Incinerator secara umum sama artinya dengan proses membakar sampah biasa  Dengan kombinasi energi panas, bahan bakar, dan oksigen secara kontinu, untuk membakar . Perbedaaannya adalah, proses pembakaran dilakukan secara tertutup dan dengan suhu minimal 800 (delapan ratus) derajat celcius hingga suhu 1100 derajat celcius. Proses pembakaran dalam chamber / ruang bakar dioptimalkan sehingga dengan sedikit bahan bakar, mampu menghasilkan temperatur tinggi. 

 

Untuk menhasilkan daya bakar yang effisien, ada beberapa komponen yang harus diperhatikan di incinerator :
1.Konstruksi Incinerator
Ruang bakar merupakan area dimana dilakukan proses pembakaran pada limbah secara langsung.  Area ini dilapisi dengan bata tahan api / firebrick  dengan kelas SK-34. Bata api ini tahan hingga suhu 1300 derajat celcius.
firebrick untuk incinerator
Susunan Bata tahan api di incinerator
Selain harus maksimal panas di dalam, bagian luar  juga perlu dijaga dengan isolasi yang baik.
lapisan incinerator
Susunan isolasi incinerator
Sehingga ketika suhu maksimal tercapai di dalam tungku bakar, bagian terluar tidak terlalu panas.

3. Ruang Bakar
Untuk ruang bakar sesuai peraturan menteri lingkungan hidup dan kehutanan NOMOR P.56/Menlhk-Setjen/2015 seharusnya ada 2 ruang bakar, yaitu ruang bakar utama (primary chamber) dan ruang bakar tambahan ( auxiliry chamber). Kedua-duanya mempunyai burner masing-masing. Aliran 


incinerator limbah puskesmas
Incinerator Limbah dengan 2 chamber - vertikal


4. Burner
 Burner merupakan sumber api yang effisien. Rata - rata untuk menghasilkan panas setara 40 s/d 80 kwH di pasaran hanya membutuhkan listrik 200 watt. Bahan bakar secara umum, bisa dipilih apakah menggunakan gas (LPG) atau solar. Disesuaikan dengan bahan bakar mana yang mudah didapat di tempat incinerator beroperasi. 
burner incinerator
Contoh Burner Incinerator


5. Blower

 Blower digunakan pada incinerator untuk menyediakan oksigen yang dibutuhkan dalam pembakaran. 

6. Kontrol suhu
Kontrol suhu di dalam ruang bakar dibutuhkan sehingga ada effisiensi bahan bakar. Untuk sensor biasa menggonakan thermokopel type K.

7. Wet Scrubber
Sesuai peraturan menteri lingkungan hidup dan kehutanan NOMOR P.56/Menlhk-Setjen/2015 kini setiap incinerator diharuskan mempunyai scrubber, untuk menangkap gas buang / hasil bakar incinerator dengan tirisan air secara kontinyu. 
Wet scrubber incinerator
Cara Kerja Wet Scrubber - pada insenerator


8. Cerobong
Untuk cerobong tinggi minimal 14 meter - jika digunakan oleh penghasil limbah yang diberi izin. Jika incinerator digunakan oleh perusahaan pengolah limbah, maka minimal tinggi cerobong adalah 24 Meter. Jika gedung di sekitar radius 30 meter dari incinerator lebih tinggi dari 14 meter dan 24 meter, maka tinggi cerobong minimal 1,5 x tinggi gedung tertinggi radius 30 meter . 

Pengelolaan limbah Medis

Pengelolaan limbah Medis telah diatur dalam Peraturan Menteri  LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA  NOMOR P.56/Menlhk-Setjen/2015 .  Limbah medis  terutama golongan B3 (bahan berbahaya dan beracun) ini dalam dinyatakan dalam Pasal 3 dan Pasal 4 peraturan menteri  sbb :

Pasal 3


Fasilitas pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 merupakan fasilitas yang wajib terdaftar di instansi yang bertanggung jawab di bidang kesehatan.  Fasilitas pelayanan kesehatan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. pusat kesehatan masyarakat;
b. klinik pelayanan kesehatan atau sejenis; dan
c. rumah sakit.

Pasal 4  
Limbah B3 dalam Peraturan Menteri ini meliputi
Limbah:
a. dengan karakteristik infeksius;
b. benda tajam;
c. patologis;
d. bahan kimia kedaluwarsa, tumpahan, atau sisa kemasan; 
e. radioaktif;
f. farmasi;
g. sitotoksik;
h. peralatan medis yang memiliki kandungan logam berat tinggi; dan
i.  tabung gas atau kontainer bertekanan. 
incinerator limbah medis
Incinerator limbah medis dengan 2 chamber

Dalam pengolahan ini, salah satu metode yang boleh digunakan adalah metode thermal. Ada beberapa pilihan metode thermal, salah satunya adalah insenerator.  Ada beberapa ketentuan yang harus dipahami yaitu :
1. Pihak yang boleh menggunakan :
  - Pihak penghasil limbah B3 yang telah mendapat izin pengolahan limbah B3 (Pasal 17 ayat 1)
  - Pihak pengolah limbah B3 yang telah mendapat izin pengelohan limbah B3 (Pasal 17 ayat 2)
2. Lokasi 
- bebas banjir, tidak rawan bencana alam
- jarak paling dekat 30 meter dari :
   i)jalan umum
   ii)daerah pemukiman
   iii) garis pasang naik laut, sungai,danau,
   iv) cagar alam, hutan lindng, dan lainnya yang dilindungi
Persyaratan ini kecualikan untuk pengolahan limbah B3 di kawasan industri
3. Ketentuan operasi
A. Jika incinerator dimiliki oleh pelaku sesuai pasal 17 ayat 1 maka harus memenuhi ketentuan: 

a. efisiensi pembakaran sekurang-kurangnya 99,95% (sembilan puluh sembilan koma sembilan puluh lima per seratus);
b. temperatur pada ruang bakar utama sekurang-kurangnya 800O  C (delapan ratus derajat celsius);
c. temperatur pada ruang bakar kedua paling  rendah 1.000o C (seribu derajat celsius)  dengan waktu tinggal paling singkat 2 (dua) detik;
d.  memiliki alat pengendalian pencemaran dara berupa wet scrubber atau sejenis;  
 e.  ketinggian cerobong paling rendah 14 m (empat belas meter) terhitung dari permukaan tanah atau 1,5 (satu koma lima) kali bangunan tertinggi, jika terdapat bangunan yang memiliki ketinggian lebih  dari 14 m (empat belas meter) dalam radius 50 m (lima puluh meter) dari insinerator; dan
f. memiliki cerobong yang dilengkapi dengan:
1. lubang pengambilan contoh uji emisi  yang memenuhi kaidah 8De/2De; dan
2. fasilitas pendukung untuk pengambilan contoh uji emisi antara lain berupa tangga dan platform pengambilan contoh uji yang dilengkapi pengaman.

B. Jika incinerator dimiliki oleh pelaku sesuai pasal 17 ayat 2 maka harus memenuhi ketentuan: 


a.  efisiensi pembakaran paling sedikit 99,99% (sembilan puluh sembilan koma sembilan puluh sembilan persen);
b.  efisiensi penghancuran dan penghilangan senyawa principle organic hazardous  constituents (POHCs) dengan nilai paling sedikit 99,99% (sembilan puluh sembilan koma sembilan puluh sembilan persen);
c.  dalam hal Limbah B3 yang akan diolah:
1.  berupa polychlorinated biphenyls; dan/atau
2.  yang berpotensi menghasilkan:
 a) polychlorinated dibenzofurans;  dan/atau
b) polychlorinated dibenzo-pdioxins,

efisiensi penghancuran dan penghilangan harus memenuhi nilai paling sedikit 99,9999% (sembilan puluh sembilan koma sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan persen);
d.  temperatur pada ruang bakar utama sekurang-kurangnya 800OC (delapan ratus  derajat celsius);
e.  temperatur pada ruang bakar kedua paling rendah 1.200OC (seribu dua ratus derajat  celsius) dengan waktu tinggal paling singkat 2 (dua) detik;
f.  memiliki alat pengendalian pencemaran udara berupa wet scrubber atau sejenis;
g.  ketinggian cerobong paling rendah 24 m (dua puluh empat meter) terhitung dari permukaan tanah atau 1,5 (satu koma lima)
kali bangunan tertinggi, jika terdapat bangunan yang memiliki ketinggian lebih dari 24 m (dua puluh empat meter) dalam radius 50 m (lima puluh meter) dari insinerator;
h.  memiliki cerobong yang dilengkapi dengan:
 1. lubang pengambilan contoh uji emisi yang memenuhi kaidah 8De/2De; dan
 2. fasilitas pendukung untuk pengambilan contoh uji emisi antara lain berupa tangga dan platform pengambilan contoh uji yang dilengkapi pengaman; dan
i.  memenuhi baku mutu emisi melalui kegiatan uji coba sebagai bagian dari pemenuhan  kelengkapan persyaratan.
(3) Dalam hal insinerator dioperasikan untuk mengolah Limbah sitotoksik, wajib dioperasikan pada temperatur sekurang-kurangnya 1.200 C (seribu dua ratus derajat celsius).




Namun ada larang juga dalam pemakaian insenerator untuk pengelolaan limbah medis, yaitu dilarang digunakan untuk:
a. Limbah B3 radioaktif;
b. Limbah B3 dengan karakteristik mudah meledak;  dan/atau
c. Limbah B3 merkuri.