Pengelolaan limbah Medis

Pengelolaan limbah Medis telah diatur dalam Peraturan Menteri  LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA  NOMOR P.56/Menlhk-Setjen/2015 .  Limbah medis  terutama golongan B3 (bahan berbahaya dan beracun) ini dalam dinyatakan dalam Pasal 3 dan Pasal 4 peraturan menteri  sbb :

Pasal 3


Fasilitas pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 merupakan fasilitas yang wajib terdaftar di instansi yang bertanggung jawab di bidang kesehatan.  Fasilitas pelayanan kesehatan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. pusat kesehatan masyarakat;
b. klinik pelayanan kesehatan atau sejenis; dan
c. rumah sakit.

Pasal 4  
Limbah B3 dalam Peraturan Menteri ini meliputi
Limbah:
a. dengan karakteristik infeksius;
b. benda tajam;
c. patologis;
d. bahan kimia kedaluwarsa, tumpahan, atau sisa kemasan; 
e. radioaktif;
f. farmasi;
g. sitotoksik;
h. peralatan medis yang memiliki kandungan logam berat tinggi; dan
i.  tabung gas atau kontainer bertekanan. 
incinerator limbah medis
Incinerator limbah medis dengan 2 chamber

Dalam pengolahan ini, salah satu metode yang boleh digunakan adalah metode thermal. Ada beberapa pilihan metode thermal, salah satunya adalah insenerator.  Ada beberapa ketentuan yang harus dipahami yaitu :
1. Pihak yang boleh menggunakan :
  - Pihak penghasil limbah B3 yang telah mendapat izin pengolahan limbah B3 (Pasal 17 ayat 1)
  - Pihak pengolah limbah B3 yang telah mendapat izin pengelohan limbah B3 (Pasal 17 ayat 2)
2. Lokasi 
- bebas banjir, tidak rawan bencana alam
- jarak paling dekat 30 meter dari :
   i)jalan umum
   ii)daerah pemukiman
   iii) garis pasang naik laut, sungai,danau,
   iv) cagar alam, hutan lindng, dan lainnya yang dilindungi
Persyaratan ini kecualikan untuk pengolahan limbah B3 di kawasan industri
3. Ketentuan operasi
A. Jika incinerator dimiliki oleh pelaku sesuai pasal 17 ayat 1 maka harus memenuhi ketentuan: 

a. efisiensi pembakaran sekurang-kurangnya 99,95% (sembilan puluh sembilan koma sembilan puluh lima per seratus);
b. temperatur pada ruang bakar utama sekurang-kurangnya 800O  C (delapan ratus derajat celsius);
c. temperatur pada ruang bakar kedua paling  rendah 1.000o C (seribu derajat celsius)  dengan waktu tinggal paling singkat 2 (dua) detik;
d.  memiliki alat pengendalian pencemaran dara berupa wet scrubber atau sejenis;  
 e.  ketinggian cerobong paling rendah 14 m (empat belas meter) terhitung dari permukaan tanah atau 1,5 (satu koma lima) kali bangunan tertinggi, jika terdapat bangunan yang memiliki ketinggian lebih  dari 14 m (empat belas meter) dalam radius 50 m (lima puluh meter) dari insinerator; dan
f. memiliki cerobong yang dilengkapi dengan:
1. lubang pengambilan contoh uji emisi  yang memenuhi kaidah 8De/2De; dan
2. fasilitas pendukung untuk pengambilan contoh uji emisi antara lain berupa tangga dan platform pengambilan contoh uji yang dilengkapi pengaman.

B. Jika incinerator dimiliki oleh pelaku sesuai pasal 17 ayat 2 maka harus memenuhi ketentuan: 


a.  efisiensi pembakaran paling sedikit 99,99% (sembilan puluh sembilan koma sembilan puluh sembilan persen);
b.  efisiensi penghancuran dan penghilangan senyawa principle organic hazardous  constituents (POHCs) dengan nilai paling sedikit 99,99% (sembilan puluh sembilan koma sembilan puluh sembilan persen);
c.  dalam hal Limbah B3 yang akan diolah:
1.  berupa polychlorinated biphenyls; dan/atau
2.  yang berpotensi menghasilkan:
 a) polychlorinated dibenzofurans;  dan/atau
b) polychlorinated dibenzo-pdioxins,

efisiensi penghancuran dan penghilangan harus memenuhi nilai paling sedikit 99,9999% (sembilan puluh sembilan koma sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan persen);
d.  temperatur pada ruang bakar utama sekurang-kurangnya 800OC (delapan ratus  derajat celsius);
e.  temperatur pada ruang bakar kedua paling rendah 1.200OC (seribu dua ratus derajat  celsius) dengan waktu tinggal paling singkat 2 (dua) detik;
f.  memiliki alat pengendalian pencemaran udara berupa wet scrubber atau sejenis;
g.  ketinggian cerobong paling rendah 24 m (dua puluh empat meter) terhitung dari permukaan tanah atau 1,5 (satu koma lima)
kali bangunan tertinggi, jika terdapat bangunan yang memiliki ketinggian lebih dari 24 m (dua puluh empat meter) dalam radius 50 m (lima puluh meter) dari insinerator;
h.  memiliki cerobong yang dilengkapi dengan:
 1. lubang pengambilan contoh uji emisi yang memenuhi kaidah 8De/2De; dan
 2. fasilitas pendukung untuk pengambilan contoh uji emisi antara lain berupa tangga dan platform pengambilan contoh uji yang dilengkapi pengaman; dan
i.  memenuhi baku mutu emisi melalui kegiatan uji coba sebagai bagian dari pemenuhan  kelengkapan persyaratan.
(3) Dalam hal insinerator dioperasikan untuk mengolah Limbah sitotoksik, wajib dioperasikan pada temperatur sekurang-kurangnya 1.200 C (seribu dua ratus derajat celsius).




Namun ada larang juga dalam pemakaian insenerator untuk pengelolaan limbah medis, yaitu dilarang digunakan untuk:
a. Limbah B3 radioaktif;
b. Limbah B3 dengan karakteristik mudah meledak;  dan/atau
c. Limbah B3 merkuri.